Welcome to Delicate template
Header
Just another WordPress site
Header

Catatan Perjalanan; Roadtest MB-OH 1626 dan OH-1830

February 15th, 2012 | Posted by Insanu3tara in Bus | Highlight | Journey | Nusantara | Personal Writing | Special Events

Di awal tahun 2012 ini, dunia otomotif Indonesia, khususnya dunia perbisan tampak semakin menunjukkan geliatnya. Hal ini ditandai dengan makin inovatifnya sektor industri utama perakitan bus, seperti industri karoseri, industri komponen rekanan dan pendukung, industri jok, penyejuk udara, dan masih banyak lagi. Mereka pun beramai-ramai dalam bersaing dengan para kompetitornya. Tidak hanya sampai di situ, ATPM dan pabrikan perakitan chassis bus pun ikut menampakkan gairahnya.

Beberapa ATPM maupun dealer resmi juga tak mau kalah dalam berlomba-lomba mengeluarkan tipe atau varian chassis bus pada tahun ini. Adalah PT. Mercedes-Benz Indonesia (MBI), di penghujung tahun 2011 kemarin telah mengeluarkan dua tipe varian chassis bus terbaru, yakni MB-OH 1626 dan MB-OH 1830. Kedua produk ini merupakan generasi penerus dan diharapkan dapat meraih kesuksesan seperti prototipe yang telah dipasarkan sebelumnya.

Dari kiri ke kanan; MB-OH 1626 dan MB-OH 1830

Sebut saja PO. Nusantara, Perusahaan Otobus asal Kota Kretek ini adalah salah satu dari sekian perusahaan otobus yang kebetulan mendapatkan kesempatan untuk memiliki kedua unit varian chassis tersebut. Jumat kemarin (10/2), Handojo Budianto, selaku pemilik PO. Nusantara, menggelar acara bertajuk “Roadtest Perdana MB-OH 1626 dan MB-OH 1830 PO. Nusantara” bersama rekan-rekan APBNu3tara. Sekadar informasi, APBNu3tara adalah sekumpulan orang yang setia menjadi pengamat dan pemerhati berbagai informasi seputar PO. Nusantara. Mereka-lah yang setia menantikan setiap informasi, inovasi, serta gebrakan yang dikeluarkan oleh PO. Nusantara. Dan, kali ini, mereka-lah yang mendapatkan kesempatan khusus untuk menjajal armada terbaru ini ketika jalan perdana.

Kedua chassis ini menjadi sangat istimewa bagi PO. Nusantara, karena PO inilah yang memperkenalkan unitnya kepada khalayak umum untuk pertama kalinya. Andy Darmawan, salah seorang staf ahli PO. Nusantara pun menambahkan “Kami mendatangkan chassis ini bertujuan untuk memanjakan para penumpang, karena kenyamanan penumpang selama dalam perjalanan adalah tujuan utama kami. Sejak dahulu, bus Mercy telah dikenal berkat kenyamanannya“, ujarnya bersemangat.

Dari kiri ke kanan; MB-OH 1830 dan MB-OH 1626

MB-OH 1626 dan MB-OH 1830 adalah dua tipe bus-chassis keluaran MBI yang telah dilengkapi dengan Air Suspension. Suspensi udara yang ada pada kedua tipe chassis ini merupakan suspensi udara asli (built-up) dari pabrikan, bukan seperti suspensi udara pada tipe-tipe chassis sebelumnya, yang menggunakan leaf-spring (atau lebih dikenal dengan suspensi daun), atau bahkan suspensi udara namun hasil rombakan atau rubahan dari pihak karoseri. Tentu saja, inovasi ini kian menunjang kenyamanan berkendara selama dalam perjalanan.

MB-OH 1626 sendiri dirilis secara resmi pada bulan Oktober tahun 2011 dengan nama kode chassis MB OH-1626 LM. Mesin: OM-906LA, 6374cc 6 silinder segaris turbo intercooler. Transmisi: G85-6 manual speed. Torsi: 950nm @ 1200-1600rpm. Tenaga: 260hp @ 2200rpm. Gross Vehicle Weight: 16 ton. Standar Emisi: Euro 3. Tipe chassis: Modular-type chassis. Equipped with built-up air suspension (front: 2 air bellow, 2 shock absorbers, rear: 4 air bellow, 2 shock absorbers).

Untuk MB-OH 1830, spesifikasi mesin sebagai berikut. Mesin: OM926LA, 6 silinder segaris 7200cc turbo intercooler. Transmisi: 6 manual speed. Torsi: 1200nm @ 1400rpm. Tenaga: 300hp @ 2200rpm. Gross Vehicle Weight: 18,5 ton. Standar Emisi: Euro 3. Tipe chassis : Modular-type chassis. Equipped with built-up air suspension (front: 2 air bellow with 4 telescopic shock absorbers, rear: 4 air bellow with 4 telescopic shock absobers).

Dapur Pacu MB-OH 1830

Modular-type chassis sendiri adalah chassis yg terdiri dari dua bagian chassis, yakni front module (bagian depan) dan rear module (bagian belakang). Front module terdiri atas driver compartement, front axle, dan baggage compartement. Sedangkan rear module terdiri atas rear axle dan engine compartement.

Lalu bagaimanakah soal performa dan kenyamanannya saat di jalan? Acara roadtest kemarin telah menjawab semuanya. Rute roadtest kemarin mengambil start dari Pool PO. Nusantara, Karanganyar, Demak menuju Jakarta Kota. Sekitar pukul 17.00 WIB, rekan-rekan APBNu3tara sudah berkumpul di pool. Peserta berasal dari berbagai kota, seperti Malang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Semarang, Bandung, dan Jakarta. Mereka sangat antusias dan menyambut gembira acara ini. Setelah semua peserta berkumpul, tak lama kemudian masing-masing bus, OH-1626 dan OH-1830 yang telah disiapkan, diparkir di pool belakang untuk diadakan sesi foto bersama bersama para peserta roadtest. Setelah diadakan pembagian tempat duduk dan briefing singkat, kira-kira pukul 19.30 WIB, rekan-rekan APBNu3tara diberangkatkan menuju kota tujuan.

Suasana di dalam kabin bus saat roadtest sedang berlangsung

Peserta yang mengikuti acara ini sebanyak 40 orang. Mekanisme pembagian tempat duduk adalah dengan cara duduk di dalam bis yang berbeda secara bergantian. Total peserta dibagi menjadi dua, sebagian menjadi penumpang OH-1626 dan sisanya menjadi penumpang OH-1830. Hal ini bertujuan agar semuanya bisa saling merasakan satu sama lain dan bisa saling bertukar informasi, berdiskusi sambil membandingkan performa dan kenyamanan kedua unit bus tersebut.

Sebagai giliran pertama, saya bersama rekan saya, sdr. Gentur mendapat kesempatan untuk menjajal bus OH-1830 terlebih dahulu hingga separuh perjalanan menuju RM. Sari Rasa, Kendal. “Sengaja kami pilih duduk di bagian paling belakang agar dapat merasakan goncangan bus Mercedes-Benz seri ini” ujar Gentur antusias. Kebetulan rute yang akan dilalui memang sedang mengalami banyak perbaikan di beberapa titik, seperti wilayah Demak dan Kaliwungu, Kendal.

Selama perjalanan berlangsung, hal pertama yang kami rasakan adalah kenyamanan yang tiada duanya. Baik OH-1626 maupun OH-1830, memiliki tingkat kenyamanan yang baik selama dalam perjalanan. Hal ini asumsikan dengan kondisi jalanan Pantura yang relatif tidak stabil dan berlubang-lubang. Suspensi udara built-up yang ditanamkan pada kedua varian tipe mesin ini bekerja sangat baik, terumata dalam hal meredam goncangan selama dalam perjalanan. Bahkan, ketika melaju dalam kecepatan tinggi pun, suspensi masih bisa bekerja sangat baik. Body bus juga tidak limbung ketika jalan pada kecepatan tinggi. Hal ini sempat menjadi wacana dan kekhawatiran tersendiri karena untuk tipe OH-1830, tinggi lantai bus dinaikkan sebanyak 20cm, karena pengaruh dari rancang-bangun chassis itu sendiri.

Ketika memasuki Kota Semarang, sengaja diputuskan untuk tidak melewati jalan dalam kota, melainkan akses langsung melalui tol. Mengingat kondisi topografi jalan tol yang relatif menanjak sehingga sangat tepat digunakan untuk menjajal performa mesin dalam kondisi jalan menanjak. Hasilnya, baik OH-1626 dan OH-1830 sangat mumpuni di medan tanjakan. Memasuki daerah Gringsing, Kab. Batang, yang terkenal dengan Tanjakan Plelen-nya, pun dapat dilalui dengan mulus tanpa hambatan.

Bus dengan spesifikasi suspensi udara ini saya rasakan cukup nyaman ketika melaju di atas jalanan yang rusak, walau saya duduk di bagian paling belakang sekalipun. Begitu saya berpindah tempat duduk ke tengah dan ke depan, kemampuan suspensi dalam meredam goncangan ternyata terasa lebih baik. Dari segi faktor keamanan, bus ini sudah mengadopsi teknologi rem cakram (disc brake) di keempat titik rodanya, masih ditambah dengan bantuan retarder dengan letak tuas berada di dekat lingkar stir kemudi. Namun sayangnya, saat ingin merasakan kemampuan pengereman dengan retarder, ternyata retarder sedang bermasalah (belum dapat difungsikan), sehingga saya belum bisa mengetahui sejauh apa kemampuan pengereman dengan bantuan retarder. Tetapi, dalam modus pengereman standar (non-retarded brake), hanya mengandalkan cakram di keempat titik rodanya, saya merasakan daya cengkeraman pengereman yang kuat namun tetap “lembut” untuk menahan laju bus berdaya-kuda 300 HP ini.

Para peserta roadtest berfoto bersama di depan bus

Sebagai perbandingan, Mercedes-Benz seri OH-1830 ini, jika dibandingkan dengan SCANIA K-310 atau K-380 sebagai sesama kompetitor di kelas premium-engine, ternyata berada dalam posisi saling mengisi. Satu sama lain saling memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tenaga yang dihasilkan oleh mesin SCANIA lebih terasa responsif dibandingkan dengan OH-1830. Menurut saya, hal ini sangat wajar karena SCANIA memiliki kapasitas mesin sebesar 12.000 cc, sangat jauh apabila dibandingkan dengan Mercedes-Benz OH-1830 yang hanya memiliki kapasitas 7.200 cc. Ditinjau dari segi estetika instrumen panel (speedometer, dan lain-lain) yang terletak di dashboard, milik SCANIA juga lebih terlihat canggih dan futuristik, jika dibandingkan dengan panel yang milik Mercedes-Benz OH-1830 yang terlihat lebih sederhana. Perbedaan yang paling mencolok, pada SCANIA terdapat tombol adjuster untuk menaikkan ataupun menurunkan suspensi udara, sedangkan pada Mercedes-Benz OH-1830 fasilitas ini tidak ada.

Berbeda dengan suspensi, suspensi pada Mercedes-Benz OH-1830 terasa lebih empuk (soft) daripada SCANIA. Hal ini bisa disebabkan karena balon (air-bellow) yang diadopsi oleh Mercedes-Benz memiliki diameter yang lebih besar, dan tentu saja hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor lain, yakni perbedaan pada struktur rancang-bangun pada chassis-nya.

Sekitar pukul 22.00 WIB, kami tiba di RM. Sari Rasa, Kendal. Setelah puas dengan goyangan suspensi Mercerdes-Benz OH-1830, kami istirahat sejenak untuk santap malam bersama rekan-rekan. Kemudian, saya berpindah ke bus Mercedes-Benz seri OH-1626. Perhatian saya langsung tertuju pada panel instrumen yang digunakan pada bus seri ini. Secara kasat mata, ternyata tidak banyak perbedaan yang berarti dari dengan seri pendahulunya, yakni seri Mercedes Benz OH-1526, yang bagi saya sudah sangat familiar. Panel intrumen dan lingkar kemudi sama persis dengan OH 1526. Mesin pun terlihat identik. Perbedaan baru terlihat pada ruang mesin, yakni penggunaan dua alternator untuk men-supply kebutuhan listrik. Namun di luar dugaan saya, ketika bus ini mulai melaju, ternyata OH-1626 memiliki sensasi berkendara dan tingkat kenyamanan yang berbeda. Kemampuannya dalam meredam guncangan ketika di jalan terasa lebih baik daripada Mercedes-Benz seri OH-1526 yang masih menggunakan suspensi daun (leaf-spring). Namun, saya rasa, kenyamanan yang dihasilkan juga tidak kalah jauh dengan kakaknya, seri OH-1830 dalam hal memberikan sensasi kenyamanan bagi penumpang.

Antusiasme peserta roadtest ketika berdiskusi tentang mesin bus

Bagi yang kurang peka, alias tidak memiliki sensitivitas yang tinggi soal kenyamanan, mungkin akan beranggapan bahwa sensasi kenyamanan yang ditawarkan antara OH-1626 dan OH-1830 adalah sama. Namun, bagi saya perbedaan sangat terasa ketika bus sedang melaju di medan jalan yang bergelombang dan berlubang. Seri OH-1830 memang meredam guncangan dan getaran dengan lebih baik daripada seri OH-01626. Namun saat jalanan mulus hampir terasa sama nyamannya, tidak ada perbedaan. Hal ini mungkin disebabkan perbedaan konstruksi pada dudukan air-bellow-nya, dimana OH-1626 letak dudukan balon udara berada tepat di bawah chassis, yakni di tengah, sedangkan OH-1830 terletak di pinggir atau pada bagian luar dari chassis. Hal ini tentunya akan membuat proses peredaman getaran semakin baik ketika di dalam kabin ketika bus melaju di kondisi jalan yang kurang bagus.

Setiap varian produk chassis memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Setelah saya mencari informasi kesana-kemari, terutama mengenai spesifikasi teknis OH-1626 dan OH-1830 dan harga jualnya, saya rasa perbedaan yang utama adalah disertakannya fitur retarder dan penggunaan disc-brake pada keempat titik roda OH-1830. Perbedaan lain juga terletak pada konstruksi rancang-bangun chassis dan dudukan balon udara. Perbedaan ini sangat jelas terlihat, walau kedua varian ini pun masih sama, tetapi baik keduanya tidak dilengkapi dengan pengatur ketinggian level balon udara.

@ RM. Taman Sari II, singgah sejenak makan siang

Pagi keesokan harinya, hari Sabtu (11/2), kami tiba di Jakarta, dan bus pun langsung menuju dealer resmi Mercedes-Benz Indonesia, PT. Adendanmas- Authorized Dealer yang berlokasi di Jalan Raya TB. Simatupang, Jakarta Selatan. Bus singgah di tempat untuk dilakukan pengecekan sekaligus maintenance di beberapa bagian sebelum nantinya akan mengantar kepulangan kami menuju Kota Kudus.

Setelah seharian berada di sana, akhirnya tepat pukul 16.00 WIB kami kembali melakukan perjalanan pulang menuju pool PO. Nusantara, Kudus. Selama perjalanan pulang, kami sempatkan untuk singgah sejenak di RM. Taman Sari, Subang untuk sekadar mengisi perut. Selanjutnya, perjalanan pun kembali dilanjutkan. Sisa perjalanan kami isi dengan istirahat karena banyak dari kami yang sudah sangat lelah dan diserang rasa kantuk yang berat. Dan tiba kembali di pool hari Minggu (11/3) pukul 02.00 WIB dini hari.

Kesimpulannya, dengan hadirnya dua seri chassis bus Mercedes-Benz terbaru ini, diharapkan akan semakin meramaikan khasanah keragaman dunia transportasi. Awal tahun 2012, bisa dikatakan adalah babak baru bagi dunia pertransportasian di Indonesia, khususnya dunia transportasi bis. Hal ini ditandai dengan semakin ramai dan beragamnya pilihan mesin bus yang ada berikut teknologi serta sensasi kenyamanan yang ditawarkan. Semoga keberagaman ini akan terus mendukung tumbuhnya segmen penumpang yang selalu setia menggunakan moda transportasi bus. (naskah: inDra/ foto: istimewa)

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 You can leave a response, or trackback.

Leave a Reply